Sabtu, 22 Juni 2019

BERHAK

BERHAK

Rasanya campur aduk bila melihat sesuatu yang jelas – jelas terbukti benar, yang sudah didukung peryataan yang benar, ditambah dengan hasil riset dan pembuktian-pembuktian yang memang mengarahkan ke tempat yang benar. Namun yang aneh masih ada sebagian kurang paham dan kurang sadar dengan kejelasan yang sudah sangat jelas. Seperti suatu sekolah ataulah lembaga pendidikan, di tahun ajaran baru berlomba dalam menjaring siswa baru. Seribu cara malah satu juta cara telah di lakukan, metode apa saja sudah di terapkan. Al hasil sekolah itu akhirnya mendapatkan apa yang di cita-citakan. Namun yang jadi masalah adalah  persepsi kita terhadap pendidikan itu sendiri, pendidikan sendiri secara umum adalah menambah suatu nilai, baik itu pengetahuan, akhlak, kreativitas, keahlian, hobi, dan lainya. Lembaga pendidikan yang ini adalah sudah dikenal di wilayahnya. Sudah cukup prestasi yang didapatkan, out put yang di keluarkan juga banyak yang bermutu. Tapi di dalam prosesnya banyak yang mengeluhkan suatu sistem yang notabene adalah pekerjaan rumah yang tak pernah terseleseikan dan tak pernah mau dimengerti.

Pengumuman yang ditempel di mading sekolah itu contohnya. Dalam penjaringan siswa, sekolah tersebut tak pernah menargetkan model siswa yang cerdas yang harus diterima, yang bodo, atau kurang cerdas silahkan mencari sekolah lain. Saya sangat bersyukur, dan setuju sekali dengan konsep itu. Jelas karena mereka punya hak mendapat pendidikan yang seimbang, tidak dibeda-bedakan, atau di golong-golongkan, malahan ada sekolah yang membuat blok-blok siswa, blok siswa cerdas, dan blok siswa kurang cerdas. Nama siswa tertulis di kertas, nampaknya akan ada yang kecewa dan ada pula yang bahagia setelah melihat pengumuman itu. Tapi alhamdulillah tidak ada rasa kecewa, ada rasa bahagia dan bimbang, ada yang ragu. Bukan hanya yang mempunyai nama yang seperti itu, tapi juga yang melahirkannya juga ikutan bahagia, ikut ragu, ikut bingung. Bahagia sudah diterima, ragu apakah anaknya mampu beradaptasi, dan bingung apakah mampu calon wali murid membayar biaya daftar ulang?. Persoalan klasik yang selalu muncul dalam hati para calon wali murid baru.

Siapapun menginginkan siswa yang cerdas, siswa yang berprestasi. Tampaknya kelak akan ada yang kecewa, emosi, dan paling parah mengumpat di hadapan siswa. Karena didalam proses pendidikan ada sesorang guru menginginkan siswa yang dididik mengerti dan paham, serta maunya semua siswa mendapat nilai sempurna di dalam ujian sekolah. Kenyataanya berbeda dengan yang telah di cita-citakan, tidak sesuai dengan yang di rencanakan, banyak siswa yang tidak lulus, tidak mencapai target, banyak siswa yang remidi. Guru tersebut pusing dibuatnya, itu tidak terjadi di ujian akhir maupun di tengah semester, di ujian harian per bab, hasilnya sama, banyak nilai merah. Bahkan hanya 1 sampai 5 anak yang namanya berwarna putih. Itu masih belum apa-apa, ada guru yang tidak hanya pusing tujuh keliling, kepalanya hampir pecah memikirkan nilai dan kelakuan siswanya. Anak-anak yang namanya bewarna merah seharusnya berhak remidi, alias mengikuti ujian ulang, untuk memperbaiki nilainya. Seorang guru harus memahami arti dari berhak dan suatu keharusan. Nyatanya anak-anak sangat paham sekali dengan urusan yang satu ini, seharusnya pendidik tersebut bahagia, dan senang karena ilmu yang telah diturunkan berhasil diserap dengan baik. Tapi anehnya kok malah mengumpat, marah, emosi yang keluar. Masalahknya kan sepele, anak menggunakan haknya. Namun yang mereka pilih adalah berhak tidak ikut remidi. Itu yang membuat guru kesal. Tapi jangan dicap anak kurang ajar jika masalahnya hanya itu, diluar sana masih banyak yang lebih layak di beri cap kurang ajar.

Hanya saja kita harus paham kenapa anak tersebut tidak mau remidi, apakah ada sesuatu yang membuat anak itu tidak mau remidi?, apakah anak tersebut memang sudah menyerah sebelum perang?, atau lebih keren dinamakan rasa malas, apakah ada kesibukan lain yang lebih menyibukan sehingga tidak sempat remidi?, ataukah anak tersebut tidak suka dengan gurunya?, atau malah guru dan mata pelajaran yang diampu yang tidak mereka sukai?.


Wong gendeng
Surabya, 14 Desember 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PTS PJOK 2019

22 September 2019. Soal PTS Semester Satu Matpel PJOK😎 2019 Jawablah dengan sadar dan sabar. Maka kamu kan temui hasil yang memuaskan!!!!...